Minggu, 28 Oktober 2012

Antara Motivasi dan Perusahaan


BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang Masalah
Perusahaan/organisasi senantiasa dituntut untuk melakukan peningkatan dan pengembangan terhadap sistem dan struktur organisasi serta peningkatan kinerja, mutu proses dan pelaksanaan, yakni: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Langkah tersebut melupakan keharusan bagi perusahaan untuk menyesuaikan dengan arus globalisasi di berbagai segi kehidupan masyarakat. Peranan perusahaan cukup signifikan dalam ikut mempersiapkan sumber daya manusia terhadap tuntutan era perdagangan bebas, dan arus globalisasi yang mengharuskan peningkatan kemampuan internal lembaga ini secara berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan industri.
Dalam era globalisasi ini, persaingan antar organisasi  semakin ketat, perusahaan/organisasi harus mampu tampil secara berbeda dan memberi warna tersendiri sebagai organisasi yang mampu berbicara dalam penyerapan pasar kerja. Upaya-upaya yang dapat dilakukan adalah melalui strategi TQM (Total Quality Management), Time Based Competition, yang disebut sebagai upaya peningkatan efektivitas operasional. Dalam menciptakan Keunggulan Masa Depan, mengemukakan antara lain bahwa strategi dasar yang harus diambil adalah menerobos ke jajaran depan dan tetap tinggal di depan. Maksudnya ialah kita harus menciptakan keunggulan persaingan (competitive advantage.), dengan jalan memposisikan (positioning)  Strategi yang harus digulirkan adalah dengan mengaktualisasikan peran organisasi di masa depan  yaitu relevance (relevan), atmosphere (atmosfir), internal management and organization (manajemen dan organisasi internal termasuk kepemimpinan dan komitmen institusi), sustainability (berkelanjutan), serta efficiency and productivity (efesiensi dan produktivitas). Proses Manajemen Strategis (Strategic Management Process) adalah satu paket komitmen, keputusan dan langkah yang diharapkan bagi sebuah organisasi untuk memiliki daya strategis. "Langkah strategis yang efektif dan efesien merupakan prasyarat untuk dapat memiliki daya saing yang diharapkan".
Selama lebih dari puluhan tahun misteri motivasi dan kinerja diungkap oleh para pakar psikologi untuk mencari akar masalah terjadinya motivasi dan demotivasi di lingkungan kerja. Beberapa ahli psikologi bahkan ada yang melakukan riset dan eksperimen untuk mengkaji terjadinya motivasi dalam pekerjaan dan menentukanfaktor-faktor yang dapat meningkatkan motivasi atau menurunkan motivasi individu di tempat kerja.

B.   Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.     Apa pengertian dari motivasi?
2.     Bagaimana teori motivasi itu?
3.     Bagaimana karakteristik motivasi berprestasi?
4.     Bagaimana teknik memotivasi kerja?

C.   Tujuan
Yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya untuk :
1.    Mengetahui pengertian dari motivasi.
2.    Mengetahui teori motivasi.
3.    Mengetahui karakteristik motivasi berprestasi.
4.    Mengetahui teknik motivasi kerja.

BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan motif sebagai daya gerak seseorang untuk berbuat. Karena perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam konteks pekerjaan, motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seorang karyawan untuk bekerja. Motivasi adalah kesediaan individu untuk mengeluarkan upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan organisasi (Stephen P. Robbins, 2001). Ada tiga elemen kunci dalam motivasi yaitu upaya, tujuan organisasi dan kebutuhan. Upaya merupakan ukuran intensitas. Bila seseorang termotivasi maka ia akan berupaya sekuat tenaga untuk mencapai tujuan, namun belum tentu upaya yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan intensitas dan kualitas dari upaya tersebut serta difokuskan pada tujuan organisasi. Kebutuhan adalah kondisi internal yang menimbulkan dorongan, dimana kebutuhan yang tidak terpuaskan akan menimbulkan tegangan yang merangsang dorongan dari dalam diri individu. Dorongan ini menimbulkan perilaku pencarian untuk menemukan tujuan, tertentu. Apabila ternyata terjadi pemenuhan kebutuhan, maka akan terjadi pengurangan tegangan. Pada dasarnya, karyawan yang termotivasi berada dalam kondisi tegang dan berupaya mengurangi ketegangan dengan mengeluarkan upaya.
Proses motivasi yang menunjukkan kebutuhan yang tidak terpuaskan akan meningkatkan tegangan dan memberikan dorongan pada seseorang dan menimbulkan perilaku digambarkan sebagai berikut:
Kebutuhan tidak terpuaskan

Tegangan

Dorongan

Perilaku Pencarian

Pengurangan Tegangan

Kebutuhan Terpuaskan
Pada umumnya kinerja yang tinggi dihubungkan dengan motivasi yang tinggi. Sebaliknya, motivasi yang rendah dihubungkan dengan kinerja yang rendah. Kinerja seseorang kadang-kadang tidak berhubungan dengan kompetensi yang dimiliki, karena terdapat faktor diri dan lingkungan kerja yang mempengaruhi kinerja.
Kinerja yang tinggi adalah fungsi dan interaksi antara motivasi, kompetensi dan peluang sumber daya pendukung, sehingga kinerja dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kinerja = ( Motivasi x Kompetensi x Kesempatan )

B. Teori Motivasi
Terdapat 5 teori motivasi yang paling popular dan berpengaruh besar dalam praktek pengembangan sumber daya manusia dalam suatu organisasi.

1. Teori Efek Hawthorn
Penelitian oleh Elton Mayo pada perusahaan General Electric kawasan Hawthorn di Chicago, memilki dampak pada motivasi kelompok kerja dan sikap karyawan dalam bekerja. Kontribusi hasil penelitian tersebut bagi perkembangan teori motivasi adalah:
·     Kebutuhan dihargai sebagai manusia ternyata lebih penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja karyawan dibandingkan dengan kondisi fiisik lingkungan kerja.
·     Sikap karyawan dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi baik di dalam maupun di luar lingkungan tempat kerja.
·     Kelompok informal di lingkungan kerja berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan sikap para karyawan.
·     Kerjasama kelompok tidak terjadi begitu saja, tetapi harus direncanakan dan dikembangkan.

2. Teori Kebutuhan
Menurut Abraham Maslow, pada dasarnya karyawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut:
·     Kebutuhan fisiologis.
·     Kebutuhan rasa aman.
·     Kebutuhan social.
·     Kebutuhan harga diri.
·     Kebutuhan aktualisasi diri.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut bersifat hierarkis, yaitu suatu kebutuhan akan timbul apabila kebutuhan dasar sebelumnya telah dipenuhi. Setelah kebutuhan fisiologis seperti pakaian, makanan dan perumahan terpenuhi, maka kebutuhan tersebut akan digantikan dengan kebutuhan rasa aman dan seterusnya. Sehingga tingkat kebutuhan seseorang akan berbeda-beda dalam bekerja. Seseorang yang kebutuhan hanya sekedar makan, maka pekerjaan apapun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
3. Teori X dan Y
McGregor mengemukakan dua model yang menjelaskan motivasi karyawan yang bekerja yaitu teori X dan teori Y.
Teori X menganggap bahwa:
·     Karyawan tidak suka bekerja dan cenderung untuk menghindari kerja.
·     Karyawan harus diawasi dengan ketat dan diancam agar mau bekerja dengan baik.
·     Prosedur dan disiplin yang keras lebih diutamakan dalam bekerja.
·     Uang bukan satu-satunya faktor yang memotivasi kerja.
·     Karyawan tidak perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri.
Teori Y menganggap bahwa:
·     Karyawan senang bekerja, sehingga pengawasan dan hukuman tidak diperlukan oleh karyawan.
·     Karyawan akan memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan organisasi jika merasa memuaskan.
·     Manusia cenderung ingin belajar.
·     Kreatifitas dan Imajinasi digunakan untuk memecahkan masalah.

4. Teori Hygine dan Motivator
Menurut Herzberg, faktor yang menimbulkan kepuasan kerja karyawan berbeda dengan faktor yang menimbulkan ketidak-puasan kerja sebagai berikut.
Faktor Hygine meliputi :
·     Kebijakan perusahaan dan sistem administrasinya.
·     Sistem pengawasan.
·     Gaya kepemimpinan.
·     Kondisi lingkungan kerja.
·     Hubungan antar pribadi.
·     Gaji / upah.
·     Status.
·     Kesehatan dan keselamatan kerja.
Faktor Motivator meliputi :
·     Pengakuan.
·     Penghargaan atas prestasi.
·     Tanggungjawab yang lebih besar.
·     Pengembangan karir.
·     Pengembangan diri.
·     Minat terhadap pekerjaan.

5. Teori Motivasi Berprestasi
David McClelland menjelaskan tentang keinginan seseorang untuk mencapai kinerja yang tinggi. Hasil penelitian tentang motivasi berprestasi menunjukkan pentingnya menetapkan target atau standar keberhasilan. Karyawan dengan ciri-ciri motivasi berprestasi yang tinggi akan memiliki keinginan bekerja yang tinggi. Karyawan lebih mementingkan kepuasan pada saat target telah tercapai dibandingkan imbalan atas kinerja tersebut. Hal ini bukan berarti mereka tidak mengharapkan imbalan, melainkan mereka menyukai tantangan.
Ada tiga macam kebutuhan yang dimiliki oleh setiap individu yaitu:
·        Kebutuhan berprestasi (Achievement motivation) yang meliputi tanggung jawab pribadi, kebutuhan untuk mencapai prestasi, umpan balik dan mengambil risiko sedang.
·        Kebutuhan berkuasa (Power motivation) yang meliputi persaingan, mempengaruhi orang lain.
·        Kebutuhan berafiliasi (Affiliation motivation) yang meliputi persahabatan, kerjasama dan perasaan diterima.
Dalam lingkungan pekerjaan, ketiga macam kebutuhan tersebut saling berhubungan, karena setiap karyawan memiliki semua kebutuhan tersebut dengan kadar yang berbeda-beda. Seseorang dapat dilatihkan untuk meningkatkan salah satu dari tiga faktor kebutuhan ini. Misalnya untuk meningkatkan kebutuhan berprestasi kerja, maka karyawan dapat dipertajam tingkat kebutuhan berprestasi dengan menurunkan kebutuhan yang lain.

C. Karakteristik Motivasi Berpretasi
McClelland seorang pakar psikologi dari Universitas Harvard di Amerika Serikatmengemukakan bahwa kinerja seseorang dapat dipengaruhi oleh virus mental yang ada pada dirinya. Virus tersebut merupakan kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk mencapai kinerja secara optimal. Ada tiga jenis virus sebagai pendorong kebutuhan yaitu kebutuhan berprestasi, kebutuhan berafiliasi dan kebutuhan berkuasa. Karyawan perlu mengembangkan virus tersebut melalui lingkungan kerja yang efektif untuk meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perusahaan.
Motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan dengan ciri-ciri seseorang melakukan pekerjaan dengan baik dan kinerja yang tinggi. Kebutuhan akan berprestasi tinggi merupakan suatu dorongan yang timbul pada diri seseorang untuk berupaya mencapai target yang telah ditetapkan, bekerja keras untuk mencapai keberhasilan dan memiliki keinginan untuk mengerjakan sesuatu secara lebih lebih baik dari sebelumnya.
Karyawan dengan motivasi berprestasi tinggi sangat menyukai tantangan, berani mengambil risiko, sanggup mengambil alih tanggungjawab, senang bekerja keras. Dorongan ini akan menimbulkan kebutuhan berprestasi karyawan yang membedakan dengan yang lain, karena selalu ingin mengerjakan sesuatu dengan lebih baik. Berdasarkan pengalamam dan antisipasi dari hasil yang menyenangkan serta jika prestasi sebelumnya dinilai baik, maka karyawan lebih menyukai untuk terlibat dalam perilaku berprestasi. Sebaliknya jika karyawan telah dihukum karena mengalami kegagalan, maka perasaan takut terhadap kegagalan akan berkembang dan menimbulkan dorongan untuk menghindarkan diri dari kegagalan.
Ciri-ciri perilaku karyawan yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi menurut McClelland adalah:
·        Menyukai tanggungjawab untuk memecahkan masalah.
·        Cenderung menetapkan target yang sulit dan berani mengambil risiko.
·        Memiliki tujuan yang jelas dan realistik.
·        Memiliki rencana kerja yang menyeluruh.
·        Lebih mementingkan umpan balik yang nyata tentang hasil prestasinya.
·        Senang dengan tugas yang dilakukan dan selalu ingin menyelesaikan dengan sempurna.
Sebaliknya ciri-ciri karyawan yang memiliki motivasi berprestasi rendah adalah:
·        Bersikap apatis dan tidak percaya diri.
·        Tidak memiliki tanggungjawab pribadi dalam bekerja.
·        Bekerja tanpa rencana dan tujuan yang jelas.
·        Ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
·        Setiap tindakan tidak terahan dan menyimpang dari tujuan.
Laporan hasil penelitian tentang gaya manajerial dari 16.000 manajer di Amerika Serikat yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, menengah dan rendah menunjukkan sebagai berikut :
·     Manajer dengan motivasi berprestasi yang rendah memiliki karakter pesimis dan tidak percaya dengan kemampuan bawahannya. Sedangkan manajer dengan motivasi berprestasi tinggi sangat optimis dan memandang bawahan baik dan menyenangkan.
·     Motivasi manajer dapat diproyeksikan pada bawahannya. Bagi manajer yang bermotivasi prestasi tinggi selalu memperhatikan aspek-aspek pekerjaan yang harus diselesaikan dan mendiskusikan tugas pekerjaan yang harus dicapai bawahannya, sehingga mereka akan menerima.
·     Manajer yang bermotivasi berprestasi tinggi cenderung menggunakan metode partisipasi terhadap bawahannya, sedangkan manajer dengan motivasi berprestasi sedang dan rendah selalu menghindar dalam interaksi dan komunikasi terbuka.
·     Manajer yang prestasinya tinggi lebih memperhatikan pada manusia dan tugas / produksi, manajer yang prestasinya sedang lebih memperhatikan tugas / produksi, sedangkan manajer yang prestasinya rendah hanya memperhatikan kepentingan pribadi dan tidak menghiraukan bawahannya.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan tingkat kinerja. Artinya, para karyawan yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan cenderung memiliki tingkat kinerja yang tinggi. Sebaliknya, mereka yang motivasi berprestasinya rendah kemungkinan akan memperoleh kinerja yang rendah.

D. Teknik Memotivasi Kerja
Beberapa teknik untuk memotivasi kerja sebagai berikut :
1. Teknik Pemenuhan Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan merupakan dasar bagi perilaku kerja. Motivasi kerja akan timbul apabila kebutuhan dipenuhi seperti dikemukakan oleh Maslow tentang hierarki kebutuhan individu yaitu:
·        Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan makan, minum, perumahan dan seksual. Kebutuhan ini paling mendasar bagi manusia. Dalam bekerja, maka kebutuhan karyawan yang harus dipenuhi adalah gaji / upah yang layak.
·        Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan perlindungan dari ancaman bahaya dan lingkungan kerja. Dalam bekerja, karyawan memerlukan tunjangan kesehatan, asuransi dan dana pensiun.
·        Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan diterima dalam kelompok dan saling mencintai. Dalam hubungan ini, karyawan ingin diterima keberadaanya di tempat kerja, melakukan interaksi kerja yang baik dan harmonis.
·        Kebutuhan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain. Dalam hubungan ini, karyawan butuh penghargaan dan pengakuan serta tidak diperlakukan sewenang-wenang.
·        Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengembangkan diri dan potensi. Dalam hubungan ini, karyawan perlu kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi.

2. Teknik Komunikasi Persuasif
Teknik komunikasi persuasif adalah satu teknik memotivasi kerja yang dilakukan dengan cara mempengaruhi dari luar diri. Rumus teknik komunikasi persuasif adalah ADIDAS sebagai berikut :
·        ttention, yaitu perhatian yang penuh
·        esire, yaitu hasrat dan keinginan yang membara
·        interest, yaitu minat dan kepentingan
·        esicion, yaitu keputusan yang tepat
·        ction, yaitu tindakan nyata
·        atisfaction, yaitu kepuasan atas hasil yang dicapai
Memotivasi merupakan salah satu faktor kunci untuk bekerja dan mencapai kinerja yang tinggi. Kegiatan memotivasi berkaitan dengan sejauhmana komitmen seseorang terhadap pekerjaannya dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Karyawan yang motivasinya terhadap suatu pekerjaan rendan atau turun akan memiliki komitmen terhadap pelaksanaan penyelesaian pekerjaannya. Karyawan tersebut termasuk orang yang kurang semangat atau motivasi rendah. Pada dasarnya, yang membuat karyawan kehilangan motivasi atau tidak semangat adalah situasi dan kondisi pekerjaan itu sendiri.
·      Tanda-tanda karyawan yang termotivasi dengan baik.
Untuk mengetahui apakah seorang karyawan memiliki motivasi yang tinggi dalam melakukan tugas akan dapat diketahui dengan mengamati karyawan dengan tanda-tanda motivasi baik adalah :
·        Bersikap positif terhadap pekerjaannya
·        Menunjukkan perhatian yang tulus terhadap pekerjaan orang lain dan membantu mereka bekerja lebih baik
·        Selalu menjaga kesimbangan sikap dalam berbagai situasi
·        Suka memberi motivasi kepada orang lain walaupun kadang tidak berhasil
·        Selalu berpikir positif dari suatu kejadian
·      Tanda-tanda karyawan yang termotivasi dengan buruk
Untuk mengetahui apakah seorang karyawan kehilangan motivasi tidak selalu mudah karena jarang diungkapkan. Namun hal ini dapat diketahui dari perubahan sikap yang terjadi pada dirinya yang dapat diamati. Tanda-tanda sikap karyawan yang tidak memiliki motivasi kerja adalah :
·        Tidak bersedia bekerja sama
·        Tidak mau menjadi sukarelawan
·        Selalu datang terlambat, pulang awal dan mangkir tanpa alasan
·        Memperpanjang waktu istirahat dan bermain game dalam waktu kerja
·        Tidak menepati tenggat waktu tugas
·        Tidak mengikuti standar yang ditetapkan
·        Selalu mengeluh tentang hal sepele
·        Saling menyalahkan
·        Tidak mematuhi peraturan
·      Cara mengatasi penurunan motivasi
Suatu hal yang perlu diperhatikan agar karyawan dan perusahaan tidak mengalami kerugian akibat penutunan motivasi, maka kita perlu mengatasi masalah tersebut dan mencegah dengan berupaya mengantisipasi kondisi yang terjadi.
Beberapa pendekatan untuk mengatasi atau mengurangi kekurangan semangat dan motivasi dalam melaksanakan pekerjaan adalah dengan pendekatan kuratif dan pendekatan preventif.
1. Pendekatan Kuratif
Pendekatan kuratif atau mengatasi adalah melihat apakah masalah yang menimbulkan pengaruh pada motivasi penting atau tidak dalam pekerjaan. Apabila masalahnya tidak terlalu penting maka kita tidak perlu merasa putus asa. Tetapi bila ternyata masalah itu penting dalam pekerjaan, maka bicara secara terbuka dan langsung dengan pihak yang berwenang untuk mendapatkan kesamaan persepsi sehingga jalan keluarnya dapat ditemukan, misalnya atasan atau konselor. Bila pihak yang berwenang tidak dapat ditemui secara langsung, hubungi melalui surat atau telepon.
2. Pendekatan Antisipatif
Karyawan sebaiknya bekerja dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya berusaha menenangkan hati sewaktu bekerja dan jangan terganggu dengan perasaan gelisah. Bila merasa gelisah karena hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, maka sebaiknya menenagkan diri di luar ruang kerja dengan cara yang diyakini berhasil, misalnya dengan berdoa atau yoga. Karyawan disarankan bersikap dan berpikir positif terhadap pekerjaan.



BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Didalam perusahaan tentu ingin mendapatkan hal yang diinginkannya dan dicita -citakannya. Berupaya dengan sekuat tenaga untuk menjadikan perusahaanya menjadi perusahaan yang besar. Kini telah berbagai macam banyaknya perusahaan berdiri di Indonesia. Bila tak dimbangi dengan persaingan yang sehat. Perusahaan akan jatuh dan gagal untuk meraih harapannya. Oleh karena itu perlu diadakanya suatu motivator untuk memberikan semangat kepada karyawan. Dengan adanya suatu motivasi di perusahaan, para karyawan akan mendapatkan apa yang diinginkan perusahaan.Tanpa adanya hal tersebut perusahaan akan susah untuk meraih harapan yang diinginkannya. Bagus tidaknya perusahaan berkembang dan sukses tergantung kepada para karyawannya yang bekerja di perusahaan tersebut. Penuh dengan tantangan untuk mendapatkan karyawan yang bekerja dengan sekuat tenaga.Perlu dengan motivasi yang kuat untuk memotivasi para karyawan. Agar hasil yang didapatkan perusahaan bisa memuaskan. Begitu amat penting suatu motivasi bagi kemajuan perusahaan.
Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu atau perkelompok untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi bagi perusahaan sangat memegang pengaruh yang amat penting untuk kemajuan perusahaan. Dimana perusahaan akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan. Lepas dari hal itu tentu suatu motivasi sangat dbutuhkan bagi setiap perusahaan guna untuk memberikan semangat dan bimbingan kepada para karyawan. Selain itu motivasi bagi perusahaan penting untuk memajukan persaingan yang sehat dikalangan para usahawan. Dengan semangat adanya motivasi perusahaan akan sangat bisa dikembangkan sehingga bisa terus berkembang dengan pesatnya di Negara ini. Ketika sebuah perusahaan membutuhkan sutu harapan untuk kemajuan.Suatu upaya untuk menjadikan perusahaan menjadi besar dan sukses adalah diantaranya dengan

B.   Saran
Motivasi ibarat api di dalam pikiran seseorang yang terkadang besar membara kadang juga redup, tergantung kondisi mentalnya. Jika seseorang ingin menggapai kesuksesan, motivasi adalah panas api yang harus dijaga jangan sampai padam, karena padamnya motivasi berarti kehilangan bahan bakar untuk menggerakkan mesin tubuh ini untuk menggapai tujuan.
Sebagai pelaku bisnis yang didukung oleh para karyawan, sudah sepantasnya bila kita terus membangun hubungan baik antara karyawan dan perusahaan. Karena bagaimanapun juga, keberadaan mereka memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kesuksesan bisnis kita.













DAFTAR PUSTAKA



Dr. Adie E. Yusuf, S.Pd. MA. 2008. Pengaruh Motivasi Terhadap Peningkatan Kinerja (online). Wordpress.com

Hendra. 2012. Cara Meningkatkan Motivasi Kerja Karyawan (online). Politeknik LP3I Bandung.

http://www.ilmu-ekonomi.com/2012/04/pengaruh-motivasi-dan-gaya-kepemimpinan.html. 12 April 2012


1 komentar:

  1. Siti Sundari (NIM 072113127) Kelas E11
    setiap orang membutuhkan motivasi untuk meraih kesuksesan hidup. begitupun peserta didik sangat membutuhkan motivasi baik dari lingkup internal maupun lingkup eksternal agar peserta didik meraih perstasi sesuai kemampuanya,oleh sebab itu SDM pendidik harus ditingkatkan

    BalasHapus