Rabu, 17 Oktober 2012

Dimensi Manusia



A.    Dimensi Ruh Manusia
Menurut Ibnu Zakariya (w. 395 H / 1004 M) menjelaskan bahwa kata al-ruh dan semua kata yang memiliki kata aslinya terdiri dari huruf ra, wawu, ha; mempunyai arti dasar besar, luas dan asli. Makna itu mengisyaratkan bahwa al-ruh merupakan sesuatu yang agung, besar dan mulia, baik nilai maupun kedudukannya dalam diri manusia
Al-Raqib al-Asfahaniy (w. 503 H / 1108 M), menyatakan di antara makna al-Ruh adalah al-Nafs (jiwa manusia). Makna disini adalah dalam arti aspek atau dimensi, yaitu bahwa sebagian aspek atau dimensi jiwa manusia adalah al-ruh.
Nyawa (ruh) menurut al-Ghazali mengandung dua pengertian, pertama : tubuh halus (jisim lathif). Sumbernya itu lubang hati yang bertubuh. Lalu bertebar dengan perantaraan urat-urat yang memanjang ke segala bagian tubuh yang lain. Mengalirnya dalam tubuh, membanjirnya cahaya hidup, perasaan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman dari padanya kepada anggota-anggotanya itu, menyerupai membanjirnya cahaya dari lampu yang berkeliling pada sudut-sudut rumah. Sesungguhnya cahaya itu tidak sampai kepada sebagian dari rumah, melainkan terus disinarinya dan hidup itu adalah seperti cahaya yang kena pada dinding. Dan nyawa itu adalah seperti lampu. Berjalannya nyawa dan bergeraknya pada batin adalah seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah, dengan digerakkan oleh penggeraknya.
Pengertian kedua yaitu yang halus dari manusia, yang mengetahui dan yang merasa. Dan itulah tentang salah satu pengertian hati, serta itulah yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya:
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) xŠÎ=s% {الإسراء : 85}

 dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Dan itu adalah urusan ketuhanan yang menakjubkan, yang melemahkan kebanyakan akal dan paham dari pada mengetahui hakikatnya.
Dengan adanya al-ruh dalam diri manusia menyebabkan manusia menjadi makhluk yang istimewa, unik, dan mulia. Inilah yang disebut sebagai khayalan akhar, yaitu makhluk yang istimewa yang berbeda dengan makhluk lainnya. Al-Qur’an menjelaskan hal ini dalam QS. Al-Mu’minun : 14. Kata al-Ruh disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 24 kali, masing-masing terdapat dalam 19 surat yang tersebar dalam 21 ayat. Dalam 3 ayat kata al-ruh berarti pertolongan atau rahmat Allah, dalam 11 ayat yang berarti Jibril, dalam 1 ayat bermakna wahyu atau al-Qur’an, dalam 5 ayat lain al-ruh berhubungan dengan aspek atau dimensi psikis manusia.
Mengenai ruh ada beberapa karakteristik, antara lain :
1.         Ruh berasal dari Tuhan, dan bukan berasal dari tanah / bumi
2.         Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani dan jiwa manusia. Ruh yang berasal dari Allah itu merupakan sarana pokok untuk munajat kehadirat-Nya
3.         Ruh tetap hidup sekalipun kita tidur / tak sadar
4.         Ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, tapi dapat pula dibersihkan dan menjadi suci.
5.         Ruh karena sangat lembut dan halusnya mengambil “wujud” serupa “wadah”-nya, parallel dengan zat cair, gas dan cahaya yang “bentuk”-nya serupa tempat ia berada.
6.         Tasawuf mengikutsertakan ruh kita beribadah kepada Tuhan
7.         Tasawuf melatih untuk menyebut kalimat Allah tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tapi juga tembus ke dalam alam rohaniah. Kalimat Allah yang termuat dalam ruh itu pada gilirannya dapat membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.
Dimensi psikis manusia yang bersumber secara langsung dari Tuhan ini adalah dimensi al-ruh. Dimensi al-ruh ini membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki oleh sumbernya, yaitu Allah. Perwujudan dari sifat-sifat dan daya-daya itu pada gilirannya memberikan potensi secara internal di dalam dirinya untuk menjadi khalifah Allah, atau wakil Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah secara nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. Tegasnya bahwa dimensi al-ruh merupakan daya potensialitas internal dalam diri manusia yang akan mewujud secara aktual sebagai khalifah Allah.
Dalam al-Qur’an dijelaskan kata al-ruh berhubungan dengan aspek atau dimensi psikis manusia. Berikut dijelaskan bahwa Allah “meniup”-kan ruh-Nya ke dalam jiwa dan jasad manusia. Sebagaimana yang terdapat dalam ayat berikut ini :
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ {الحجر : 29}
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (QS. Al-Hijr : 29)
Berdasarkan ayat di atas, kata ruh dihubungkan dengan Allah. Istilah yang digunakan untuk menyatakan hubungan itu juga beragam, seperti al-ruh minhu ruhina, ruhihi, al-ruhiy, ruh min amri rabbi. Selanjutnya, ruh Allah itu diciptakan kepada manusia melalui proses al-nafakh. Berbeda dengan al-nafs, sebab nafs telah ada sejak nutfan dalam proses konsepsi, sedangkan ruh baru diciptakan setelah nutfah mencapai kondisi istimewa. Karena itu merupakan dimensi jiwa yang khusus bagi manusia.
Tasawuf Islam mengajarkan metode dan teknik-teknik munajat dan shalat khusyuk guna meningkatkan derajat ruh mencapai taraf al-nafs al-muthmainnah / lebih tinggi lagi. Sehingga diharapkan manusia dapat mengembangkan diri mencapai kualitas insan kamil. Adapun ruh diciptakan jauh sebelum manusia dilahirkan, berfungsi semasa hidup dan setelah meninggal ruh akan pindah ke alam baqa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya ke dalam hadirat Ilahi. Jadi ruh itu ada dalam diri manusia, tapi tak kasat mat (invisible) karena sangat halus, gaib serta dimensinya yang jauh lebih tinggi dari alam pikiran, serta tahapannya pun di atas alam sadar. Ruh dengan demikian merupakan salah satu dimensi yang ada pada manusia di samping dimensi ragawi dan dimensi kejiwaan, yang ada sebelum dan sesudah masa kehidupan manusia.

B.     Dimensi Fisik Manusia
Fisik atau dalam bahasa Inggris "Body" adalah sebutan yang berarti sesuatu wujud dan dapat terlihat oleh kasat mata, yang juga merupakan terdefinisi oleh pikiran. Dimensi fisik manusia berarti bagian tubuh manusia (badan) keseluruhan yang dapat di inderakan oleh mata serta dapat diuraikan dengan kalimat/terdefinisi.
Proses terjadinya manusia sangatlah dasyat. Untuk bisa membuahi sel telur, satu sel sperma harus berkompetisi dengan jutaan sel sperma lainnya dan hanya satu saja yang jadi pemenangnya.
Secara fisik, keajaiban fisik manusia dapat dilihat dari bentuk tubuh yang ditopang oleh 200 tulang yang telah dibentuk secara unik dan estetis, 500 otot dengan milyaran serta-serat otot dan serat syaraf yang panjangnya kira-kira 11 km. Saling terkoordinasi dengan baik tanpa ada tumpang tindih pekerjaan antara yang lainnya.
Manusia memiliki denyut jantung 100.000 kali/hari. Memompa 25.000 liter darah/hari keseluruh tubuh, mata mampu membedakan lebih dari 10 juta warna, panjang pembuluh darah mencapai 100.000 km dan jika disambungkan dengna serat-serat otot yang dimiliki, ternyata mampu memberi 25 ton daya tarik kekuatan otot apabila keseluruhan otot disalurkan ke arah yang sama.
Dalam kurun waktu 24 jam, jantung normal berdenyut 103.689 kali, darah menempuh perjalanan sepanjang 168.000.000 mil, bernafas sebanyak 23.040 kali, menghirup udara sebanyak 483 M3, menelan 1,5 kg makanan, dan 3.5 minuman/cairan.
Manusia berkata-kata sebanyak 25.000 kata, menggerakan 750 otot, kuku kita tumbuh sepanjang 0.00012 cm, rambut tumbuh sepanjang 0.94353 cm, lebih ajaib lagi semua ini dikendalikan dan diperintahkan (dikontrol) oleh sebuah organ yang besarnya sedikit lebih besar dari dua kepalan tangan kita dan berat kurang lebih 1.5 kg, yaitu otak.
Otak manusia terdiri atas 1 trilyun sel otak, yang jumlahnya setara dengan 167 kali jumlah penduduk bumi, dimana setiap selnya mampu bekerja lebih hebat dari PC komputer yang ada. Dengan uraian diatas, maka jangan pernah putus asa, jangan pernah mengeluh dan jangan pernah rendah diri, karena potensi dari kita adalah luar biasa, karena Tuhan sudah menciptakan kita dengan sangat luar biasa.
Ada beberapa cara untuk menjaga kesehatan fisik kita, diantaranya yaitu:
1.    Hindari kebiasaan barang candu
2.    Hindari hubungan seks di luar nikah
3.    Makan Makanan Yang Sehat Dan Sesuai Aturan
4.    Menjaga Kebersihan Diri Sendiri Dan Lingkungan Sekitar Kita
5.    Berolahraga Dan memeriksakan Kesehatan Ke Dokter Secara Berkala
6.    Hindari Stress Yang Berlebihan Dengan Cara Yang Sehat Dan Halal

C.    Dimensi Akal Manusia
Akal berasal dari bahasa Arab 'aql yang secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan. Dengan akal, dapat melihat diri sendiri dalam hubungannya dengan lingkungan sekeliling, juga dapat mengembangkan konsepsi-konsepsi mengenai watak dan keadaan diri kita sendiri, serta melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap rasa ketidakpastian yang esensial hidup ini.
Akal juga bisa berarti jalan atau cara melakukan sesuatu, daya upaya, dan ikhtiar. Akal juga mempunyai konotasi negatif sebagai alat untuk melakukan tipu daya, muslihat, kecerdikan, kelicikan.
Al-Ishfahami membagi akal manusia kedalam 2 macam yaitu:
1.         Aql-al-Mathbu yaitu akal yang merpakan pancaran dari Allah swt sebagi fitrah ilahi. Akal ini tidak akan bisa berkembang jika tidak dibarengi dengan kekuatan akal lainyya, yaitu akal aql-al masmu.
2.         Aql-al Masmu yaitu akal yang merupakan kemampuan, menerima yang dapat dikembangkan manusia. Akal ini bersifat aktif dan dapat dikembangakan sebatas kemampuan yang dimilikinya lewat bantuan proses perinderaan secara bebas.
Fungsi akal manusia:
1.         Akal adalah penahan nafsu. Dengan akal manusia dapat mengerti apa yang tidak dapat dikehendaki oleh amanat yang dibebankan kepadanya sebagai kejiwaan.
2.         Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu baik yang tampak jelas maupun tidak jelas.
3.    Akal adalah penunujuk yang dapat membedakan bidaah dan kesehatan.
4.    Akal adalah kesadaran batin dan pengtuaran.
5.    Akal adalah pandangan batin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata
6.    Akal adalah daya ingat mengambil dari yang telah lampau untuk masa yang akan dihadapi.
Dalam dunia pendidikan, fungsi intelektual atau kemampuan akal manusia atau anak didik dikenal dengan istilah kognitif. Kognitif yaitu peroleh, penataan dan penggunaan pengetahuan. Kognisi sebagai salah satu peranan psikologis yang berpusat di otak meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan pengolahan inforamasi, pemecahan masalah, kesenjangan dan keyakinan.
Adapun tujuan pendidikan akal berdasarkan semangat Islam secara utuh adalah akal yang sempurna menurut ukuran ilmu dan takwa. Dengan kata lain, setelah mengalami pendidikan seseorang diharapkan mencapai tingkat perkembangan yang optimal sehingga mampu berperan sebagaiman yang diharapkan, yaitu untuk berfikir dan berdzikir.
Antara agama dan akal terdapat hubungan dua arah dimana hubungan ini berada dalam bentuk yang sedemikian eratnya sehingga mustahil membayangkan adanya pemisahan di antara keduanya. Makna hubungannya bisa dijabarkan dalam bentuk yang lain.
Agama dari satu sisi telah menjelaskan urgensi akal dalam dua dimensi teoritis dan praktis, misalnya dalam salah satu ayat-Nya Allah Swt berfirman,
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ yìö6y ;Nºuq»oÿxœ z`ÏBur ÇÚöF{$# £`ßgn=÷WÏB ãA¨t\tGtƒ âöDF{$# £`åks]÷t/ (#þqçHs>÷ètFÏ9 ¨br& ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ¨br&ur ©!$# ôs% xÞ%tnr& Èe@ä3Î/ >äóÓx« $RHø>Ïã ÇÊËÈ  
 “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah senantiasa turun di antara keduanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 12).
Berdasarkan ayat ini, tujuan penciptaan seluruh langit adalah keberilmuan seluruh manusia, dan karena akal teoritis memegang tanggung jawab dalam pemikiran dan tafakkur, maka menjadi jelaslah bahwa hasil-hasil pemikiran yang berangkat dari penciptaan keseluruhan langit dan alam, sangat bergantung pada akal teoritis ini, dan manusia ketika meraih tujuan hakiki penciptaan alam, maka niscaya dia telah berhasil memanfaatkan dan menggunakan secara maksimal potensi akalnya dan juga dengan perantaraan akal teoritis inilah manusia akan mampu menyingkap berbagai hakikat-hakikat alam dan menambah luas pengetahuan-pengetahuan teoritisnya.
Demikian juga, dalam salah satu ayat-Nya, Allah Swt menjelaskan tentang urgensi akal praktis sebagai berikut,

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. adz-Dzhariyaat: 5).
Allah Swt dalam ayat ini menganggap bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah ibadah dan penghambaan. Dari satu sisi, ibadah dan penghambaan berada dalam cakupan motivasi-motivasi yang benar dan hal ini tidak akan terwujud tanpa memanfaatkan akal praktis, dengan artian bahwa jika manusia tidak mampu menciptakan motivasi-motivasi yang benar dan bernilai dalam dirinya dan ia tidak mampu menentukan tujuan mulia untuk segala perbuatannya sendiri di alam materi, maka makna yang benar dan tepat dari aspek penghambaan dan ubudiyahnya ini tidak akan pernah dia temukan.
Dari sini, bisa dikatakan bahwa kesadaran tentang kebertujuan penciptaan alam dan makhluk tersebut juga merupakan hasil dari akal praktis. Dan tanpa adanya akal praktis ini, manusia tidak akan memiliki kemampuan untuk menciptakan motivasi-motivasi yang tepat, ibadah-ibadah yang lurus, dan penghambaan yang benar, dengan demikian tanpa adanya akal praktis, manusia akan terhalang dalam pencapaian tujuan hakiki penciptaannya.

0 komentar:

Posting Komentar